Sabtu, 13 November 2010

Sejarah Kemunculan Ilmu Kalam


BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Islam sebagai agama mempunyai metode yang unik dalam mengemban ideologinya, yakni dengan dakwah dan jihad, yang diemban oleh Negara Islam yang bernama al-khilafah al-islamiyah. Alquran mengajarkan metode dakwah : bi al-hikmah (dengan rasional), al maw’izaha al-hasanah (peringatan yang baik) dan mujadalah bi al-lati hiya ahsan (diskusi dengan argumentasi yang lebih bijaksana.

Disamping itu, jihad juga mempunyai metode yang unik, yang wajib dilakukan memalui tiga tahap. Pertama, dengan dakwah ila al-islam (menyeru untuk memeluk Islam). Kedua, jika tidak bersedia wajib diseur untuk tunduk pada pemerintahan Islam. Ketiga, jika tidak bersedia, alternatif terakhir adalah diperangi (jihad). Dan dengan metode inilah, Islam berkembang dan tersebar diseluruh dunia.

Dengan metode diatas, khususnya mengajak kepada Islam dengan argumentasi rasional dan diskusi dengan menggunakan argumentasi yang lebih baik, maka pintu masuknya pengaruh ajaran non-Islam menjadi terbuka. Disamping karena Alquran sendiri banyak memberi conto perdebatan yang dilakukan Rasulullah denga ahli kitab dan orang – orang musyrik, seperti bantahan Alquran terhadap Trinitas (al tatslith), bahwa Allah adalah satu yang terdiri dari tiga oknum, Bapak, Anak, dan Roh Kudus serta bantahan terhadap ide Ketuhanan Lata dan Uzza.

Inilah, antara lain yan menjadi factor yang ikut membidani lahirnya Ilmu Kalam ditengah – tengah kaum Muslimin.





Banyak Ulama – ulama telah mendefinisikan Ilmu Kalam, tetapi definisi – definsi tersebut masih perlu dikaji ulang untuk menentukan apakah tepat ataukah tidak. Sebab, definisi yang salah nantinya akan membawa implikasi pada kesalahan asumsi (tasawwur) yang lahir dari definisi tersebut. Padahal kesalahan asumsi akan melahirkan sikap yang salah. Sebaliknya, jika asumsi tersebut benar, akan lahirlah sikap yang benar pula. Ini karena definisi merupakan usaha untuk mendeskripsikan objek tertentu melalui sifat – sifatnya, dari aspek komprehensif (Jami’) dan protektifnya (mani’).

B.     RUMUSAN MASALAH
  1. Apakah yang dinamakan Ilmu Kalam itu?
  2. Apa saja yang menjadi sumber dari Ilmu Kalam itu?
  3. Bagaimana sejarah kemunculan Ilmu Kalam?
  4. Apa saja objek – objek yang dibahas dalam Ilmu Kalam?
  5. Apa tujuan pembahasan Ilmu Kalam
  6. Metode apa saja yang digunakan dalam pembahasan Ilmu Kalam
  7. Siapa sajakah tokoh – tokoh ilmu kalam dan Mahzabnya?
















BAB II
PEMBAHASAN

A.     DEFINISI ILMU KALAM
Secara etimilogis, kata ilmu kalam berasal dari Bahasa Arab, ‘Ilm Al – Kalam’, yaitu ilm (pengetahuan) dan al – kalam (perdebatan). Lafaz ilmu kalam ini berbentuk tarkib idafi yang bermakna penyandaran pada lafas pertama dan yang kedua menjadi sandaran, sehingga lafaz al – kalam menjadi sandaran lafaz ilm, dan ilm disandardarkan pada al – kalam.

Lafaz ilm dalam bahasa arab adalah ma’rifah (pengetahuan) dan fahm (pemahaman). Sedangkan lembaga bahasa arab Mesir mengartikan lafaz ‘ilm sebagai akumulasi dan dasar – dasar menyeluruh tentang suatu pembahan yang dibahas dengan metode kajian tertentu, dana berakhir dengan lahirnya teori hukum.

Ilmu kalam juga disebut dengan beberapa nama antara lain, ilmu ushuwadin, ilmu tauhid, ilmu fiqih al – akbar, dan beberapa teori Islam disebut ilmu Ushuluddin karena  membahas pkok – pokok agama. Disebut juga ilmu tauhid karena didalammnya membahas ke-Esaan Allah SWT. Juga mengkaji tentang Asma (nama) dan af’at (perbuatan) Allah yang wajib dan mustahil. Secara umum ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid, tetapi argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika.

Secara terminologis, ilmu kalam telah banyak didefinisikan oleh beberapa ulama dan tokoh Islam antara lain :
1.      Al Farabi
Ilmu kalama ialah disiplin ilmu yang membahas zat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam.
2.      Ibnu Kaldun
Ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang aqidah imani yang dibuat dri dlalil – dalil rasional.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa banyak sekali pengertian Ilmu Kalam dimana sebagai pengetahuan yang berisi berbagai argumentasi mengenai akidah keimanan berdasarkan dalil – dalil rasional.

B.     SUMBER – SUMBER ILMU KALAM
Sumber – sumber Imu Kalam meliputi :
1.      Al Quran
Didalam Alquran, banyak sekali menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, diantaranya :
a.       Q.S. Al – Ikhlas ayat 3-4 : Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun didunia ini yang tampak sekutu (sejajar) denganNya.
b.      Q.S. As Syura ayat 7 : Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun didunia ini. Ia maha mendengan dan maha mengetahui.
c.       Q.S. An – Nisaa’ ayat 125 : Tuhan menurunkan aturan berupa agama. Seseorang akan dikatakan telah malaksanakan aturan agama apabila melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah.
d.      Q.S. Ali Imran ayat 83 : Tuhan adalah tempat kembali segala sesuatu baik secara terpaksa maupun secara sadar.
e.       Q.S. Al Anbiya ayat 92 : Manusia dlam berbagai suku, ras atau etnis dan agama apapun adalah umat Tuhan yang satu. Oleh sebab itu, dalam kondisi dan situasi apapun harus mengarahkan pengabdiannya hanya kepadaNya.

Ayat – ayat diatas berkaitan dengan zat, sifat, asma, perbuata, tuntunan dan hal – hal lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan. Hal – hal yang berkaitan dengan Ketuhanan tersebutlah yang disebut dengan istilah Ilmu Kalam.





2.      Hadist
Dalam hadits Nabi SAW banyak membicarakan masalah yang berkaitan dengan Ilmu Kalam. Diantaranya adalah hadist nabi yang menjelaskan tentang prediksi Nabi mengenai kemunculan bernagai golongan dalam Ilmu Kalam, diantaranya :
a.       HR. Abu Hurairah r.a : Ia mengatakan bahwa Rasululah bersabda, “Orang – orang Yahudi akan terpecah belah menjdi tujuh puluh dua golongan, dan Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh golongan”.
b.      HR. Abdullah bin Umar : Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa Bani Israil. Bani Israil telah terpecah – pecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi menjdi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja. “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?’ Tanya para sahabat. Rasul menjawab, “Mereka adalah orang yang mengikuti jejakku dan sahabat – sahabatku. Kebenaran hadist yang berkaitan dengan perpecahan umat seperti tersebut diatas pada dasarnya merupakan prediksi Nabi dengan melihat yang tersimpan dalam hati para sahabatnya. Hal itu lebih dimaksudkan sebagai peringatan bagi para sahabat dan umat Nabi tentang bahayanya perpecahan dan pentingnya persatuan.

3.      Pemikiran Manusia
Pemikiran dalam hal ini dapat berasal dari pemikiran umat Islam sendiri atau pemikiran yang berasal dari luar umat Islam. Umat Islam telah menggunakan alat pikir atau rasionya untuk menjelaskan hal – hal yang berkaitan dengan ayat – ayat Alquran, terutama yang belum jelas maksudnya (al-mutayabihat) sebelum filsafat Yunani masuk dan berkembang di dunia Islam. Adapun ayat yang menyatakan bahwa manusia harus menggunakan rasionya adalah :




Artinya : “maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci.”.

Dan masih banyak lagi ayat – ayat yang serupa yang bermaksud untuk menumbuhkan motivasi dan oerintah manusia dalam menggunakan rasio. Manusia pun dpat menjalankan fungsinya sebagai Khalifah dimuka bumi yang menggunakan rasionya berdasarkan Alquran.

Adapun sumber ilmu kalam yang berasal berupa pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat diklasifikasikan dalam dua kategori yaitu :
a.       Pemikiran non muslim yang telah menjadi peradaban lain yang ditransfer dan diasimilasikan dengan pemikiran Umat Islam.
b.      Berupa pemikiran – pemikiran non muslim yang bersifat akademis, seperti filsafat (terutama dari Yunani), sejarah dan sains.

4.      Insting
Secara instingtif, manusia selalu ingin bertuhan. Kepercayaan adanya Tuhan berkembang sejak adanya manusia pertama. Tylor mengatakan bahwa animisme (anggapan adanya kehidupan pada benda – benda mati) merupakan asal – usul kepercayaan tentang adanya Tuhan. Ia pun menjelaskan di wilayah tertentu pemujaan terhadap benda – benda alam berkembang secara beragam. Mereka memuja Totenisme. Burung Elang, burung Nash, buaya ataupun hal – hal lain merupakan hal yang dianggap suci. Kepercayaan adanya Tuhan secara instingtif telah berkembang sejak manusia pertama.

Jadi secara historis dapat disimpulkan bahwa ilmu kalam bersumber pada Alquran, hadist, pemikiran manusia, dan insting. Ilmu kalam adalah sebuah lmu yang mempunyai objek tersendiri, tersistematisasikan dan mempunyai metodologi sendiri.




C.     SEJARAH KEMUNCULAN ILMU KALAM (KONTAK KEBUDAYAAN YUNANI DAN ARAB)
Secara detail kita dapat mengungkapkan faktor – faktor munculnya ilmu kalam yaitu :
1.      Faktor Internal
Faktor internal yaitu yang berasal dari umat Islam itu sendiri, yang dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
a.       Alquran
Alquran mendorong manusia untuk mempunyai ilmu pengetahuan, melakukan penelitian mengenai fenomena alam, juga mengangkat kedudukan orang berilmu.
b.      Politik
Peristiwa politik berawal dari fitnah kubra stelah terbunuhnya Utsman bin Affan yang melahirkan konflik politik yang merembet kedalam persoalan akidah. Hal ini dikarenakan karena masing – masing pihak menjustifikasi kelompoknya dengan argumentasi teologis. Ini dapat dibuktikan dalam kasus pengkafiran Khawarij kepada Ali bin Abi Thalib ra dan Mu’awiyah akibat kasus politik yang menyangkut isu tahkhim (pengambilan keputusan) yang keduanya dikatakan oleh Khawarij tidak berhukum kepada Allah SWT melainkan kepada manusia.

2.      Faktor Eksternal
Faktor – faktor eksternal ini ada karena adanya pengaruh futuhat (penaklukan) yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap wilayah romawi, Persia, dan India yang merupakan tempat lahir dan berkembangnya filsafat serta agama – agama non Islam antara lain seperti Maijusi, Yahudi, Nasrani, Sabilah, dan sebagainya. Juga karena factor penerjemahan filsafat kedalam bahasa Arab.

D.    OBJEK PEMBAHASAN ILMU KALAM
Objek pembahasan yang diperdebatkan sesama Mutakallimir antara lain sebagai berikut :
1.      Masalah pengetahuan (al-ma’rifah) dan cara memperolehnya. Pembahasan ini bertujuan untuk mengukuhkan keyakinan mengenai pengetahuan informatik khususnya yang dibawa oleh Rasulullah.
2.      Masalah kebaruan alam (huduts al-a’lam), bertujuan untuk membuktikan kewujudan zat Yang Maha Pencipta.
3.      Masalah keesaan Allah sebagai bantahan terhadap pandangan Tsanawiyah yang meyakini eksistensi Tuhan dan Tuhan kegelapan.
4.      Masalah tanzih (Pensucian Allah) dan penolakan tasybih (penyerupaan Allah)
5.      Masalah sifat Allah dan hubungannya dengan zat-Nya, apakah zat-Nya sama dengan sifat-Nya, ataupun berbeda.
6.      Masalah kalam Allah, baik qadim maupun baru
7.      Masalah kenabian bertujuan untuk mengukuhkan keyakinan pada kenabian Muhammad SAW.
8.      Masalah kemaksuman para nabi yang bertujuan untuk membantah pandangan Yahudi, bahwa Nabi Muhammad SAW mempunyai kelemahan – kelemahan, dosa, dan tidak maksum.
9.      Masalah tempat kembali yang membantah pandangan reinkarnasi agama Budha dan lainnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa objek pembahasan ilmu kalam adalah argumentasi dan bantahan dalam masalah akidah yang berkaitan dengan wujud, zat, sifat dan perbuatan Allah, kebutuhan kepada Rasul, hari kiamat, serta pahala dan siksa.

E.     TUJUAN PEMBAHASAN ILMU KALAM
Tujuan pembahasan ilmu kalam adalah untuk mengukuhkan pemikiran akidah Islam baik yang berkaitan dengan objek mahsus maupun yhayr mahsus melalui berbagai argumentasi ataupun menyusun berbagai bantahan untuk menyangkal penyimpangan akidah dengan menggunakan dalil – dalil logika.




F.      METODE ILMU KALAM
a.       Montiaiyyah (logika-silogismne) yaitu merupakan teknik penyusunan proposisi (qadiyyah) satu dengan proposisi lain untuk menghasilkan kesimpulan (natijah). Ini merupakan metode yang paling dominan dalam kajian ilmu kalam.
b.      Aqyisah’ aqliyyah yaitu merupakan cara membangun argumentasi dengan membandingkan persamaan antara beberapa kasus. Ketika persamaan antara keduanya ada, berarti ada kemungkinan keduanya mempunyai persamaan dalam diri – diri yang lain.
c.       Naqliyyah – zhanniyyah yaitu merupakan metode pengambilan kesimpulan berdasarkan makna yang digali dari nash – nash spekulatif.




















BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
Banyak Ulama – ulama telah mendefinisikan Ilmu Kalam, tetapi definisi – definsi tersebut masih perlu dikaji ulang untuk menentukan apakah tepat ataukah tidak. Sebab, definisi yang salah nantinya akan membawa implikasi pada kesalahan asumsi (tasawwur) yang lahir dari definisi tersebut. Padahal kesalahan asumsi akan melahirkan sikap yang salah. Sebaliknya, jika asumsi tersebut benar, akan lahirlah sikap yang benar pula. Ini karena definisi merupakan usaha untuk mendeskripsikan objek tertentu melalui sifat – sifatnya, dari aspek komprehensif (Jami’) dan protektifnya (mani’).

B.     SARAN
Setelah telaah dalam makalah ini, maka kami dapat memberikan saran sebagai berikut :
1.      Ilmu Kalam penting dimengerti guna mencegah terjadinya penyimpangan akidah akibat salah penafsiran pada Islam
2.      Guna demi terwujudnya tujuan akhir hidup manusia, yaitu meraih Ridho Allah SWT, maka kita harus paham akan akidah – akidah dalam Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar